Sosialisasi “Saring Sebelum Sharing”, Anggota DPRD Jatim Ajak Warga Bijak Menyikapi Informasi

Daerah Gaya Hidup Opini Politik & Pemerintahan Sosial Trending Now

KataJatim.com – Jember — Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur Drs. H. Satib, M.Si mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam menyikapi arus informasi di era digital dengan menerapkan prinsip “saring sebelum sharing”. Ajakan tersebut disampaikan dalam kegiatan peningkatan kapasitas anggota DPRD Provinsi Jawa Timur bertema “Sosialisasi Berpikir Kritis terhadap Informasi (Saring Sebelum Sharing) untuk Menjaga Kerukunan Bangsa”.

Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Minggu malam (15/3/2026) di kediaman Drs. H. Satib, M.Si, yang juga merupakan anggota DPRD Provinsi Jawa Timur. Acara berlangsung mulai pukul 20.35 hingga 21.30 WIB dan diikuti sekitar 50 warga dari lingkungan sekitar dalam suasana dialogis dan penuh antusiasme.

Dalam pemaparannya, Drs. H. Satib, M.Si menekankan pentingnya kemampuan berpikir kritis dalam menyikapi berbagai informasi, khususnya yang beredar di media sosial. Menurutnya, masyarakat tidak boleh mudah mempercayai informasi yang belum jelas kebenarannya.

“Prinsip saring sebelum sharing harus menjadi kebiasaan masyarakat. Dengan memverifikasi informasi terlebih dahulu sebelum menyebarkannya, kita dapat mencegah penyebaran hoaks yang berpotensi memicu konflik dan perpecahan,” ujar Satib.

Ia menjelaskan bahwa perkembangan teknologi digital membawa dampak yang sangat besar dalam kehidupan masyarakat. Telepon genggam dan media sosial di satu sisi mempermudah komunikasi serta mempercepat penyebaran informasi. Namun di sisi lain, penggunaan yang tidak bijak juga dapat menimbulkan kesalahpahaman hingga konflik sosial.

Selain itu, Satib juga menyinggung perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) yang saat ini mampu menghasilkan berbagai konten digital yang menyerupai kenyataan. Menurutnya, teknologi tersebut memiliki manfaat besar, tetapi juga berpotensi disalahgunakan untuk memanipulasi informasi apabila masyarakat tidak memiliki literasi digital yang memadai.

Dalam kesempatan tersebut, Drs. H. Satib, M.Si juga memberikan penjelasan mengenai program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang sempat menjadi perhatian masyarakat. Ia menjelaskan bahwa total anggaran sebesar Rp15.000 per porsi tidak sepenuhnya digunakan untuk biaya makanan, melainkan terbagi dalam beberapa komponen.

Sekitar Rp3.000 dialokasikan untuk biaya operasional seperti gaji tenaga kerja, transportasi, serta kebutuhan listrik dapur. Kemudian Rp2.000 digunakan untuk biaya sewa fasilitas atau dapur penyedia makanan. Sementara sisanya digunakan untuk biaya makanan bagi siswa yang besarannya disesuaikan dengan jenjang pendidikan.

Menurut Satib, seluruh penggunaan anggaran program tersebut dikelola secara transparan karena setiap dapur memiliki pencatatan keuangan yang dapat diaudit sehingga akuntabilitas program tetap terjaga.

Sementara itu, narasumber lainnya Dr. Ahmad Winarno, M.Pd.I, yang merupakan akademisi sekaligus dosen di UIN KHAS Jember, menyoroti pentingnya literasi digital dalam menghadapi derasnya arus informasi di era teknologi saat ini.

Menurut Dr. Ahmad Winarno, perkembangan teknologi membuat setiap orang tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga dapat menjadi penyebar bahkan pembuat informasi melalui media sosial.

“Kalau dulu berita diproduksi oleh wartawan, sekarang siapa saja bisa membuat dan menyebarkan informasi melalui media sosial,” jelas Dr. Ahmad Winarno.

Ia menambahkan bahwa jumlah pengguna internet di Indonesia sangat besar sehingga informasi dapat menyebar dengan sangat cepat melalui berbagai platform digital seperti WhatsApp, TikTok, dan Instagram.

Sebagai contoh, Dr. Ahmad Winarno menyinggung kasus antrean panjang di sejumlah SPBU yang sempat terjadi akibat beredarnya informasi mengenai kelangkaan BBM. Informasi tersebut dengan cepat menyebar di media sosial dan memicu kepanikan masyarakat, padahal setelah diperiksa tidak semua daerah mengalami kondisi yang sama.

Oleh karena itu, Dr. Ahmad Winarno mengajak masyarakat untuk membiasakan diri memeriksa sumber informasi, memahami konteks berita secara utuh, serta mempertimbangkan dampaknya sebelum membagikan kembali kepada orang lain.

Melalui kegiatan ini, masyarakat diharapkan semakin sadar akan pentingnya literasi digital serta mampu menggunakan teknologi secara bijak. Selain menjadi sarana edukasi, kegiatan tersebut juga menjadi ruang dialog antara masyarakat dan para pemangku kepentingan dalam memperkuat kebersamaan serta menjaga kerukunan dalam kehidupan bermasyarakat. iz


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *